Dalam banyak masyarakat, termasuk di Indonesia, peran orang tua khususnya ayah sering dipandang sebagai pilar utama keluarga. Ayah dianggap sebagai pelindung, pembimbing, sekaligus figur otoritas. Namun, meningkatnya angka perceraian, tuntutan pekerjaan yang membuat ayah sering tidak hadir, hingga rendahnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan memunculkan fenomena fatherless generation, yaitu generasi remaja yang tumbuh tanpa kehadiran atau peran ayah yang memadai.
Kondisi ini tidak sekadar berkaitan dengan rasa kehilangan figur atau kesepian semata. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kondisi fatherless berkaitan dengan meningkatnya risiko perilaku menyimpang pada remaja, seperti kenakalan, delinkuensi, agresivitas, hingga ketertarikan pada kelompok jalanan atau komunitas berisiko (Rahmadhani, dkk., 2024).
Artikel ini bertujuan untuk mengulas mengapa minimnya keterlibatan ayah menjadi faktor risiko yang kuat terhadap penyimpangan perilaku remaja, bagaimana mekanisme psikososial yang terlibat, serta implikasinya bagi pengasuhan dan kebijakan sosial.
Apa Itu Fatherless dan Keterlibatan Ayah?

Istilah fatherless tidak selalu berarti ayah tidak hadir secara fisik. Dalam banyak kasus, ayah mungkin ada di rumah, namun tidak terlibat secara emosional maupun fungsional dalam kehidupan anak. Penelitian di Indonesia menjelaskan bahwa keterlibatan ayah mencakup beberapa dimensi, yaitu:
- Involvement instrumental, seperti pemenuhan kebutuhan dasar, disiplin, dan supervisi.
- Expressive involvement, meliputi keakraban, komunikasi, dan kedekatan emosional.
- Mentoring atau keterlibatan emosional, berupa bimbingan nilai, teladan, dan dukungan psikologis.
Ketika ayah absen dalam dimensi-dimensi tersebut, anak berisiko kehilangan dukungan emosional, pengawasan, serta figur panutan yang penting bagi perkembangan kepribadiannya (Nurrohmah, 2024).
Keterlibatan Ayah dan Kesejahteraan Psikologis Remaja
Sebuah studi pada remaja awal usia 12–15 tahun menunjukkan bahwa persepsi keterlibatan ayah berpengaruh signifikan terhadap kesejahteraan psikologis (psychological well-being) remaja, terutama ketika dikaitkan dengan tingkat harga diri (Prihandini & Boediman, 2019).
Remaja yang merasakan kehadiran ayah melalui perhatian, dukungan emosional, pengawasan, dan bimbingan cenderung memiliki kondisi psikologis yang lebih sehat, rasa aman, serta harga diri yang lebih baik. Sebaliknya, minimnya keterlibatan ayah dapat melemahkan fondasi psikologis remaja dan membuat mereka lebih rentan terhadap tekanan lingkungan.
Hubungan Fatherless dengan Perilaku Menyimpang dan Delinkuensi
Penelitian kuantitatif di Teluk Kuantan, Indonesia, menemukan bahwa kondisi fatherless berpengaruh signifikan terhadap delinkuensi remaja. Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,341 dengan p < 0,05 menunjukkan adanya hubungan yang nyata antara absennya peran ayah dan perilaku menyimpang (Lia & Juwita, 2025).
Temuan ini sejalan dengan studi internasional oleh Markowitz & Ryan (2016) yang menunjukkan bahwa remaja dengan ayah non-residen (tidak tinggal serumah) memiliki risiko lebih tinggi terlibat dalam delinkuensi dibandingkan saudara kandung yang tinggal bersama ayah, terutama jika ayah meninggalkan rumah sejak masa kanak-kanak.
Menariknya, kualitas hubungan ayah–anak juga memegang peran penting. Penelitian menunjukkan bahwa ayah yang terlalu keras atau otoriter (harsh father) dapat memberikan dampak yang sama, bahkan lebih buruk, dibandingkan ayah yang tidak hadir sama sekali (Simmons, 2018). Riset lain menegaskan bahwa ketidakhadiran ayah, khususnya jika disertai rasa kesepian, kurangnya kontrol, dan ketiadaan figur pria yang dapat diandalkan, berkaitan dengan meningkatnya agresivitas dan perilaku menyimpang pada remaja (Susana, dkk., 2024).
Mekanisme Psikososial: Mengapa Ketidaklibatan Ayah Berisiko?
Beberapa mekanisme psikososial menjelaskan mengapa minimnya keterlibatan ayah meningkatkan risiko penyimpangan perilaku remaja, antara lain:
- Kurangnya pengawasan dan kontrol orang tua (parental monitoring)
Remaja menjadi lebih rentan terhadap pengaruh teman sebaya yang menyimpang atau lingkungan negatif. Penelitian menunjukkan bahwa kualitas pengawasan lebih penting daripada sekadar kehadiran fisik orang tua. - Kehilangan figur panutan dan identitas gender
Terutama pada remaja laki-laki, absennya ayah dapat mendorong pencarian figur pengganti di luar rumah, yang sering kali ditemukan dalam kelompok jalanan, geng, atau komunitas berisiko. - Rendahnya kesejahteraan psikologis dan harga diri
Perasaan tidak diperhatikan atau tidak dihargai dapat mendorong remaja mencari penerimaan di luar keluarga, meski kelompok tersebut memiliki norma negatif. - Keterikatan sosial yang rapuh
Tanpa bimbingan moral dan figur ayah, remaja lebih mudah terjebak dalam lingkaran perilaku menyimpang yang berulang dan semakin berat.
Implikasi: Mengapa Ini Penting dan Apa yang Bisa Dilakukan?
Fenomena fatherless menuntut perhatian serius dari berbagai pihak. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Pendidikan dan kesadaran orang tua
Ayah bukan hanya pencari nafkah, tetapi juga figur emosional dan moral yang sangat penting bagi perkembangan anak. - Intervensi keluarga dan komunitas
Dalam keluarga dengan ayah tidak hadir, dukungan dari ibu, keluarga besar, sekolah, dan komunitas menjadi krusial untuk mengimbangi kekosongan figur ayah. - Kebijakan sosial dan program remaja
Pemerintah dan lembaga sosial dapat mengembangkan program mentoring, figur ayah pengganti, atau pelatihan parenting untuk meminimalkan dampak negatif fatherless. - Kesadaran terhadap pengaruh teman sebaya
Pengawasan dan penanaman nilai sejak dini penting untuk mencegah remaja terjerumus ke lingkungan negatif.
Kesimpulan

Fenomena fatherless generation, baik dalam bentuk absennya ayah secara fisik maupun minimnya keterlibatan emosional dan fungsional, memiliki dampak serius terhadap perkembangan psikologis, karakter, dan perilaku remaja. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kondisi ini meningkatkan risiko delinkuensi, agresivitas, kenakalan, serta penurunan kesejahteraan emosional dan akademik.
Pencegahan membutuhkan pendekatan terpadu melalui pengasuhan yang melibatkan ayah secara aktif, dukungan keluarga dan komunitas, serta kebijakan publik yang berpihak pada kesehatan mental dan perkembangan remaja. Fenomena ini tidak dapat dianggap sepele karena dampaknya dapat berlanjut hingga dewasa dan memengaruhi kualitas kehidupan generasi mendatang.
Penulis : Nadia Lambutu | Editor: Arifi Zulaika, S.Kom.
Gambar : illustrasi dari Freepik.com

Tinggalkan Balasan