Guru PAUD & Kreativitasnya di Masa Pandemi COVID-19

JOMBANG, DETECTION – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia meminta semua guru PAUD untuk tidak memberikan tugas yang memberatkan anak selama Belajar dari Rumah (BDR) pandemi COVID-19 ini. Selama BDR anak-anak PAUD diberikan ruang untuk mengembangkan keterampilannya melalui segala macam jenis permainan yang ada di rumah. Akan tetapi hal ini membawa beban tersendiri bagi orangtua karena orangtua merasa jika tidak ada penugasan apapun dari sekolah maka anak-anak kurang dapat mengembangkan keterampilannya secara terarah apalagi ditambah orangtua yang merasa kesulitasn dalam memberikan pendampingan kepada anak selama BDR. Oleh karena itu, di bulan-bulan awal ketika kegiatan BDR ini dilaksanakan orangtua berharap agar sekolah tetap memberikan penugasan dengan tujuan agar anak dapat belajar disiplin dan mandiri selama berada di rumah melalui kegiatan pembiasaan sehari-hari dan terpantau oleh gurunya.

Oleh karena itu, awalnya penulis selaku guru PAUD mencoba merancang pembelajaran sesuai dengan harapan orangtua untuk kegiatan BDR yang berfokus untuk tugas pembiasaan dan mengasah kemandirian anak. Adapun pembiasaan itu antara lain dengan kegiatan cuci tangan dengan sabun, makan sendiri tanpa bantuan, mencuci piring sendiri setelah makan, memakai baju sendiri, merapikan kamar tidur sendiri, belajar mencuci bajunya sendiri, dan kegiatan lain yang dapat dilakukan anak di rumah. Kemudian orangtua akan mengirimkan foto atau video hasil kegiatan anak di Whatsapp Group (WAG) sebagai bentuk laporan dan pemantauan.

Setelah dilakukan evaluasi, kegiatan pembiasaan tersebut tidak bisa terus menerus menjadi kegiatan penugasan inti, karena pandemic COVID-19 ini masih ada sampai saat ini dan kegiatan BDR masih harus dilanjutkan. Anak-anak sudah mulai bosan dan mulai “ogah melaksanakan tugas gurunya. Sehingga penulis perlu membuat sebuah inovasi untuk dapat merangsang dan menstimulus perkembangan anak dan kegiatan menjadi bervariatif.

Penulis mencoba untuk memberikan kegiatan yang senantiasa mengarah pada pengembangan aspek-aspek perkembangan anak.  Sebagai contoh, dalam pengembangan keterampilan motorik halus, guru memberi tugas pada anak untuk membuat kolase, melipat, mengayam dengan bahan alam yang ada di sekitar rumah, seperti potongan daun kering, biji-bijian, ranting pohon, daun pisang, daun singkong dan lain sebagainya. Ternyata anak-anak senang melakukannya dan orangtua tidak merasa kesusahan dalam mencari bahan untuk tugas anak-anaknya. Melalui pengalaman tersebut, penulis merasa tertantang untuk dapat mengembangkan kemampuan Higher Order Thinking Skills (HOTS) anak melalui ragam kegiatan lainnya. Kemudian penulis meminta anak-anak untuk membuat jamu kunyit, anak-anak diminta untuk terlibat mulai dari proses awal, memarut sampai menjadi jamu kunyit. Kemudian orangtua diminta untuk mengirimkan hasilnya, dan ternyata anak-anak sangat antusias untuk melakukan kegiatan eksperimen semacam itu. Kegiatan eksperimen lainnya adalah  membatik dengan warna alami seperti warna dari kunyit, pandan, buah naga, dan lainnya dan membatik eco-print sederhana dengan menggunakan tanaman di sekeliling rumah seperti daun papaya dan bunga sepatu, atau Bunga-bungaan dan daun-daun lainnya. Ternyata melalui kegiatan-kegiatan eksperimen tersebut kemampuan anak semakin terasah dan anak sangat antusias untuk terlibat bersama orangtua.

Sebagai refleksi, di masa pandemi COVID-19 ini, penulis sebagai guru PAUD dituntut untuk semakin kreatif. Kreativitas penulis sebagai seorang guru PAUD diasah sedemikian rupa dan dapat diterjemahkan dalam ragam kegiatan untuk peserta didiknya di rumah. Satu hal menjadi kunci utama dan pertama bagi guru PAUD harus paham dulu bagaimana karakteristik peserta didiknya dan dimana peserta didiknya tinggal, karena dengan demikian maka guru mendapatkan bekal untuk merancang pembelajaran yang kreatif dan sesuai dengan kebutuhan mereka. Hal lain yang tak kalah penting adalah guru PAUD diharapkan mampu menjaga komunikasi dua arah antara orangtua dan peserta didik dengan baik, meskipun hal tersebut tidak lepas dari tantangan dan kendala yang dihadapi. Sehingga diharapkan BDR ini berjalan sesuai dengan tujuan yang dirancang, berfokus pada pengembangan keterampilan anak, dan guru dapat melakukan evaluasi pembelajarannya.

Penulis : Yatimah.S,Psi | Editor : Arifi Zulaika, S.Kom.

Gambar illustrasi dari Freepik.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *