Pernahkah Anda mengikuti setiap berita terbaru tentang idola favorit Anda, membeli setiap produk yang mereka iklankan, atau bahkan merasa seolah-olah Anda mengenalnya secara pribadi? Ini adalah pengalaman umum bagi banyak penggemar.
Namun, ketika kekaguman tersebut melampaui batas dan menjadi obsesi kompulsif, hal ini dapat digambarkan sebagai Sindrom Pemujaan Selebriti (Celebrity Worship Syndrome, CWS). Meskipun bukan diagnosis klinis resmi dalam psikologi, konsep ini digunakan untuk menjelaskan kecenderungan obsesif yang tidak sehat terhadap figur publik.
Para psikolog, seperti Lynn E. McCutcheon, telah mengklasifikasikan pemujaan selebriti ke dalam tiga level, dari yang paling ringan hingga yang paling ekstrem.
1. Level Entertainment-Social

Ini adalah tingkat yang paling umum dan dianggap normal. Pada level ini, seseorang mengikuti selebriti untuk tujuan hiburan dan interaksi sosial. Mereka mungkin menikmati membaca berita gosip, membeli majalah tentang idola mereka, atau berdiskusi dengan teman-teman sesama penggemar. Kekaguman ini tidak memengaruhi kehidupan pribadi mereka secara negatif.
2. Level Intense-Personal

Pada level ini, kekaguman mulai menjadi lebih intens dan personal. Individu merasa memiliki hubungan emosional yang kuat dengan selebriti tersebut. Mereka mungkin merasa seolah-olah selebriti itu adalah belahan jiwa atau sahabat terbaik. Pikiran tentang selebriti menjadi sangat sering, dan mereka mungkin merasa kesepian atau depresi jika idola mereka sedang mengalami masa sulit.
3. Level Borderline-Pathological

Sumber : Freepik.com
Ini adalah tingkat yang paling berbahaya dan tidak sehat. Obsesi menjadi kompulsif dan patologis. Individu dengan CWS pada level ini mungkin memiliki fantasi ekstrem, seperti keyakinan bahwa mereka memiliki hubungan yang spesial dengan selebriti, atau bahkan berencana untuk menculik selebriti tersebut. Perilaku ini dapat mengganggu kehidupan sehari-hari secara serius, seperti pengeluaran yang tidak terkontrol untuk barang-barang terkait idola, mengabaikan hubungan pribadi, dan bahkan melakukan stalking.
Mengapa Pemujaan Selebriti Terjadi?
Para ahli meyakini ada beberapa faktor psikologis di balik berkembangnya sindrom ini:
- Pembentukan Identitas: Bagi remaja dan orang dewasa muda, mengikuti selebriti bisa menjadi cara untuk mengeksplorasi identitas dan nilai-nilai diri. Mereka melihat idola sebagai model peran yang bisa ditiru.
- Melarikan Diri dan Mengisi Kekosongan: Pemujaan selebriti dapat menjadi mekanisme pelarian dari kehidupan yang membosankan atau dari rasa kesepian.
- Hubungan parasosial (hubungan satu arah) dengan idola dapat memberikan rasa persahabatan dan validasi emosional.
- Masalah Psikologis yang Lebih Dalam: Pada tingkat ekstrem, CWS seringkali dikaitkan dengan masalah psikologis lain, seperti harga diri rendah, kecemasan sosial, atau gangguan identitas. Obsesi terhadap selebriti dapat menjadi cara untuk mengelola rasa sakit atau ketidakbahagiaan yang mendalam.
Yuk, mulai lebih sadar dengan cara kita mengagumi idola!
Kalau kamu merasa kekagumanmu mulai memengaruhi emosi atau kehidupan sehari-hari, itu saatnya untuk berhenti sejenak dan mengevaluasi. Mengidolakan itu boleh, tapi kesehatan mentalmu tetap nomor satu.
Suka idola? Gas! Obsesif? Stop dulu.
Upgrade cara nge-fans kamu jadi lebih sehat. Lebih cinta diri, lebih sadar batas, lebih bahagia. Let’s be a smart fan!
Penulis : Azmi Nabila Djaman, S.Psi. | Editor: Arifi Zulaika, S.Kom.
Gambar : illustrasi dari www.freepik.com

Tinggalkan Balasan